Selasa, 24 Januari 2012

hukum sembelihan ahlul kitab


HUKUM SEMBELIHAN AHLUL KITAB


Makna Bahasa
Kata ahl berasal dari kata ahila-ya’halu-ahlan. Al-Ahl artinya adalah famili, keluarga, kerabat. Ahl ar-rajul artinya adalah istrinya, ahl ad-dâr artinya penduduk kampung, ahl al-’amr artinya penguasa, ahl al-madzhab
artinya orang-orang yang beragama dengan mazhab tersebut, ahl al-wabar artinya penghuni kemah (pengembara), ahl al-madar atau ahl al-hadhar artinya orang yang sudah tinggal menetap.*1)

Dari pengertian di atas, kata ahl jika disambung dengan al-kitâb, Mmaknanya yang paling sesuai pengertiannya secara bahasa, adalah orang-orang yang beragama sesuai dengan al-Kitab. Dengan ungkapan lain, mereka adalah para penganut atau pengikut al-Kitab.
Makna Istilah
Al-Qur’an telah mengecualikan kaum Muslim dari sebutan Ahlul Kitab meskipun kaum Muslim beragama sesuai dengan kitab samawi, yaitu al-Qur’an. Berikutnya, sebutan Ahlul Kitab secara syar’i hanya menunjuk kepada Yahudi dan Nasrani, tidak mencakup selain keduanya.

Kata Ahlul Kitab dinyatakan di dalam 31 ayat al-Qur’an.*2) Al-Qur’an menggunakan kata Ahl al-Kitâb hanya dengan penunjukkan kepada dua golongan, yaitu Yahudi dan Nasrani. Terbukti bahwa semua ayat Ahl al-Kitâb menunjuk kepada dua golongan tersebut. Hal ini dapat kita pahami dari penafsiran para mufasir terhadap ayat-ayat tersebut, juga dari sebab-sebab turunnya.


Pada masa Rasulullah Saw dan masa sahabat terma Ahl al-Kitâb selalu digunakan hanya untuk menunjuk dua komunitas pemeluk agama Yahudi dan Nashrani. Selain dua komunitas tersebut tidak disebut sebagai Ahl al-Kitâb.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Ahl al-Kitâb hanya Yahudi dan Nasrani dari Bani Israel, sedangkan di luar Bani Israel, sekalipun beragama Yahudi atau Nasrani, tidak termasuk Ahl al-kitâb. Mereka berargumentasi bahwa Nabi Musa a.s. dan Isa a.s. hanya diutus untuk kaumnya, yaitu Bani Israel. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa obyek seruan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. yang diutus hanya Bani Israel. Akan tetapi, hal itu tidak menunjukkan tidak bolehnya orang di luar Bani Israel mengikuti risalah Taurat dan Injil; juga tidak menunjukkan bahwa pengikut Taurat dan Injil selain Bani Israel tidak termasuk Ahl al-Kitâb. Apalagi bahwa orang-orang Arab (bukan keturunan Bani Israel) pada masa Nabi Saw tetap dimasukkan sebagai bagian Ahl al-Kitâb, di samping karena sebutan Ahl al-Kitâb adalah umum untuk semua orang yang menganut agama Yahudi dan Nasrani.

Imam ath-Thabari, ketika menafsirkan surat Ali Imran [3] ayat 64, menyatakan, “Ahl al-Kitâb bersifat umum mencakup seluruh pengikut Taurat dan pengikut Injil. Yang demikian sudah diketahui bersama, yakni bahwa yang dimaksud dengn Ahl al-Kitâb adalah dua golongan itu seluruhnya.” Hal senada juga dinyatakan oleh asy-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadîr.*3)

Imam Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut, menyatakan, “Seruan ini bersifat umum mencakup seluruh Ahl al-Kitâb, yaitu Yahudi dan Nasrani, serta siapa saja yang berjalan di atas jalan mereka.”*4)

Artinya, setiap orang yang menganut agama Yahudi atau Nasrani, sekalipun bukan keturunan Bani Israel, adalah bagian dari Ahl al-Kitâb.

Ada juga sebagian kaum Muslim yang beranggapan bahwa sekarang Ahl al-Kitâb sudah tidak ada. Artinya, orang Yahudi dan Nasrani sekarang bukanlah Ahl al-Kitâb. Mereka berargumentasi, Ahl al-Kitâb adalah orang Yahudi dan Nasrani pada masa Rasulullah Saw, atau menjalankan ajaran Taurat dan Injil yang sebenarnya secara lurus.

Pendapat tersebut kurang tepat. Sebab, penyimpangan orang Yahudi dan Nashrani juga sudah terjadi pada masa Rasul Saw bahkan sudah berlangsung sebelum masa beliau. Al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa orang Nasrani pada waktu itu sudah meyakini ide trinitas,*5) meyakini bahwa al-Masih Putra Maryam adalah Allah,*6) meyakini al-Masih adalah anak Allah,*7) menyekutukan Allah dengan menjadikan rahib-rahib dan orang-orang besar mereka sebagai tuhan selain Allah (orang Yahudi juga berperilaku sama),*8) dan penyimpangan Nasrani lainnya masih banyak. Sedangkan orang Yahudi berkeyakinan bahwa Uzair adalah anak Allah,*9) menutupi kebenaran dengan memalsukan isi Taurat,*10) dan banyak penyimpangan lainnya.

Artinya, orang Yahudi dan Nasrani memang sudah menyimpang sejak masa Rasul Saw. Oleh karenanya, mereka dengan jelas digolongkan sebagai orang kafir.*11) Adapun sekarang, penyimpangan mereka bertambah lebih banyak lagi. Namun, status mereka adalah sama dengan pada masa Rasul Saw, yaitu termasuk orang kafir.

 
Rasul Saw dan para sahabat pada waktu itu mengetahui tentang orang Majusi dan agama mereka. Namun, orang Majusi tidak mereka sebut sebagai Ahl al-Kitâb. Imam Malik bin Anas meriwayatkan bahwa Umar pernah menyebut Majusi lalu berkata, “Saya tidak tahu bagaimana memperlakukan urusan mereka.”

Kenyataan bahwa mereka bukan Ahlul Kitab juga diperkuat oleh fakta bahwa hukum tentang Ahlul Kitab tidak diterapkan semua atas mereka. Hasan bin Muhammad bin ’Ali bin Abi Thalib menuturkan:

Rasulullah Saw menulis surat kepada orang-orang Majusi Hajar. Beliau menyeru mereka pada Islam. Siapa saja yang masuk Islam diterima, sedangkan yang tidak, dikenakan atas mereka kewajiban membayar jizyah, hanya saja sembelihan mereka tidak boleh dimakan dan wanita mereka tidak boleh dinikahi. [HR. al-Baihaqi].*12)

Hadis ini menjelaskan perlakuan seperti terhadap Ahlul Kitab dalam hadis Imam Malik di atas, yaitu bahwa perlakuan sama itu tidak dalam semua hal, tetapi hanya dalam masalah jizyah. Artinya, orang Majusi juga dikenai kewajiban membayar jizyah, tetapi mereka termasuk orang-orang musyrik.

Walhasil, Ahlul Kitab secara syar‘i hanyalah orang-orang beragama Yahudi dan Nasrani baik dulu pada masa Rasul Saw dan para sahabat ataupun masa sekarang dan yang akan datang.

Terhadap Ahlul Kitab, Islam memberikan hukum yang berbeda dengan kaum musyrik: sembelihan Ahlul Kitab boleh dimakan dan kaum wanitanya yang muhshanat (yang senantiasa menjaga diri dan kesuciannya) boleh dinikahi, yang menurut banyak ulama harus memenuhi syarat-syarat tertentu. [Majalah al-wa'ie, Edisi 48]

Catatan Kaki:

1. Munawir, Kamus al-Munawir hlm. 46, Pustaka Progressif; Ibn Manzhur, Lisân al-’Arab 1/28; al-Manawi, at-Ta‘ârif 1/105; Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh, 1/13.

2. QS 02: 105, 109; QS 03: 64, 65, 69, 70, 71, 72, 75, 98, 99, 110, 113, 199; QS 04: 153, 159, 171; QS 05: 15, 19, 59, 65, 68, 77; QS 29: 46; QS 33: 26; QS 57: 29; QS 59: 2, 11; QS 98: 1, 6.

3. Ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, 3/303, Dar al-Fikr, Beirut; Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, 1/348. Dar al-Fikr, Beirut.

4. Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr, 1/372. Dar al-Fikr, Beirut.

5. Lihat: QS al-Maidah [05]: 73, ide trinitas sendiri dijadikan doktrin resmi gereja dalam Konferensi Nicea pada abad ke-2 M.

6. Lihat: QS al-Maidah [05]: 17.

7. Lihat: QS at-Taubah [09]: 30.

8. Lihat: QS Ali Imran [03]: 64.

9. Lihat: QS at-Taubah [09]: 30.

10. Lihat: QS Ali Imran [03]: 71 dan 78. Lihat juga catatan kaki al-Quran dan terjemahan maknanya oleh Depag, yang mengisyaratkan bahwa orang Nasrani juga melakukan hal sama.

11. Sebagai tambahan, lihat: QS al-Baqarah [02]: 105; al-Hasyr [59]: 2, 11; al-Bayyinah [98] 1,6

12. Al-Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani, Nizhâm al-Ijtimâ’î fî al-Islâm, hlm. 108, Hizbut Tahrir cet. 4 (Mu’tamadah). 2003.

SEMBELIHAN AHLI KITAB

 
 Mengenai permasalahan memakan sembelihan ahli kitab; kita coba bahagikan kepada dua perbincangan:

PERTAMA
Pandangan ulama mengenai hukum sembelihan ahli kitab:-
1-kebanyakan ulama bersepakat mengatakan bahawa memakan sembelihan ahli kitab adalah dibolehkan; yakni halal bagi orang Islam selagi mana ia dari haiwan yang halal di sisi kita atau pun haram di sisi mereka seperti lemak. Pendapat ini mewakili pandangan Syafie, Hanafi dan Hanbali, melainkan imam Malik menegah sembelihan yang diharamkan ke atas mereka. Kerana maksud firman Allah taala ayat 5 surah Al Maidah menyebut makanan yang bererti apa yang dihalalkan di sisi mereka. Pendapat jumhur adalah berdasarkan dalil umum maksud firman Allah taala di dalam surah Al Maidah ayat 5 dan juga sunnah Rasulullah SAW serta sahabat yang memakan sembelihan ahli kitab.

2-Ibn Abbas, Abu Amamah, Mujahid, Said ibn Jabir, 'Ikrimah, 'Atho', dan Al Hassan, Makhul dan Ibrahim Nakhae, Sadi, Muqatil ibn Hayyan bersepakat bahawa maksud 'to'am' di dalam ayat 5 surah al Maidah adalah dikhususkan bagi sembelihan. Berdasarkan maksud ayat menunjukkan halal sembelihan ahli kitab bagi orang Islam. Kerana mereka masih beriktikad dengan hukum haram sembelihan pada selain Allah dan mereka juga tidak menyebut pada sembelihan mereka melainkan dengan nama Allah. Manakala makanan yang lain seperti roti dan seumpamanya adalah harus dalam semua keadaan kecuali makanan itu adalah dari sumber yang haram; seperti tepung yang dicuri dan lain-lain.

3-Imam Syafie berpendapat halal memakan sembelihan ahli kitab dengan syarat;
1-Syarat yang berkaitan dengan penyembelih (zabih)
2-Syarat yang berkaitan dengan haiwan yang disembelih (mazbuh)
3-Syarat yang berkaitan dengan alat sembelihan (alatuzzibh)

Pertama-Penyembelih

1)Hendaklah Islam atau pun ahli kitab:-
-Apa yang dimaksudkan dengan ahli kitab di sini ialah Yahudi dan Nasrani.
-Sekiranya penyembelih bukan dari kalangan orang Islam dan tidak juga berupa golongan ahli kitab; samada orang murtad atau penyembah berhala atau atheis (Mulhid) atau Majusi maka tidak halal sembelihan mereka.
-Dalil halal sembelihan Muslim berdasarkan dalil dari firman Allah taala di dalam surah Al Maidah ayat 3: "Kecuali apa yang kamu sembelihi".
-Dalil halal sembelihan ahli kitab melalui firman Allah taala ayat 5 Surah Al Maidah.
-Dalil tidak halal sembelihan selain keduanya berdasarkan hadis Rasulullah >SAW yang melarang memakan sembelihan Majusi dan tidak boleh menikahi wanita >mereka.-Riwayat Al Baihaqi
-Begitu juga bagi golongan atheis dan penyembah berhala adalah min bab-aula.

2)Ahli kitab itu bukan dari kalangan mereka yang berpegang dengan ajaran kitab mereka yang telah diselewengkan atau dibuang dan begitu juga dengan keturunan mereka hendaklah dari genarasi yang menganut ajaran kitab sebelum berlaku penyelewengan dan pertukaran.
-Maka golongan athies yang memeluk Kristian pada hari ini adalah tidak halal sembelihan mereka dan begitu juga Nasrani atau Yahudi yang berasal dari keturunan golongan penyembah berhala dan seumpamanya kemudian telah memeluk ajaran Kristian setelah berlaku penyelewengan atau sejurus sahaja selepas kerasulan Nabi Muhammad SAW adalh tidak dihalalkan juga sembelihan >mereka.
-Syafie berhujahkan dengan dalil daripada riwayat Syahr ibn Husyib bahawa Rasulullah SAW telah melarang daripada memakan sembelihan Nasrani bangsa Arab; seperti golongan Bahra', Tanukh dan Taghlub.
-Illah tegahan tersebut kerana mereka memeluk ajaran Nasrani setelah mana berlaku penyelewengan dan perubahan pada ajaran tersebut.

3)Hendaklah sembelihan itu bukan dilakukan selain Allah atau menyebut selain nama Allah taala.

-Dalil firman Allah taala: "Dan apa yang disembelih selain Allah dengannya"-Al Maidah:3 -Sekiranya sembelihan itu dilakukan untuk berhala, atau seorang Muslim, atau nabi maka tidak halal sembelihan tersebut. Maka seandainya seorang ahli kitab menyebut dengan nama Al Masih bagi Nasrani pada sembelihannya, atau Yahudi menyebut dengan nama Uzair, tidak halal sembelihan itu kerana dilakukan pada selain Allah dan menyebut selain namaNya.
-Di dalam kitab Al Baijuri, Syiekh Ibrahim telah mengatakan bahawa halal sembelihan ahli kitab itu dengan beberapa syarat, Yaitu:-
i) ahli kitab yang berpegang dengan ajarannya sebelum diubah dan diselewengkan.
ii)Sembelihan itu hendaklah dari kalangan ahli kitab yang halal nikah dengan wanitanya.


KEDUA

-Haiwan sembelihan:-
1)Penyembelih hendaklah mengetahui haiwan yang ingin disembelih adalah masih hidup. 2)Memutuskan halqum dan urat semerih; halqum saluran pernafasan, urat semerih adalah saluran makanan.Sekiranya masih ada salah satu antara keduanya maka sembelihan tidak halal. Riwayat Bukhari dan Muslim; daripada Rafie ibn Khadij r.a. berkata; Rasulullah SAW bersabda maksudnya:"Apa (sembelihan) yang mengalir darah dan disebut nama Allah padanya maka makanlah ia selagi tidak menggunakan gigi dan kuku". Syarat pada sembelihan menurut Syafie hendaklah apa yang mengalir darahnya dan keadaan itu berlaku setelah mana terputusnya halqum dan urat semerih dan kematian adalah berlaku dengan terputus keduanya.
3)Bersegera dan dengan sembelihan yang sekali iaitu sekira-kira tidak

Ketiga-Alat sembelihan:-

1)Apa yang bisa melukai dengan benda tajam. seperti besi, tembaga, peluru, buluh, kaca, batu dan seumpamanya. Maka tidak sempurna sembelihan >menggunakan lemparan batu yang tidak tajam. Kerana alat sembelihan itu >hendaklah yang dapat mengalirkan darah.
2)Alat sembelihan tidak menggunakan kuku dan gigi sekalipun ia melukakan. >Berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang bermaksud:"..bukan kuku dan gigi". Termasuk juga segala bentuk tulang samasaja tulang manusia atau selainnya. Hikmah pengecualian ini adalah kerana sembelihan merupakan ibadah yang bersifat peribadi/khusus dan bukan kerana suatu sebab atau maslahah.Wallahu a'lam.

4-Ibn Abbas berpendapat ianya tidak mengapa; halal memakan sembelihan >mana-mana ahli kitab termasuk Bani Taghallub berdasarkan umum maksud ayat, dan Ibn Abbas meriwayatkan juga dihalalkan sembelihan ahli kitan disebabkan >kerana mereka beriman dengan Taurat dan Injil.-riwayat Hakim.

6-Sembelihan hamba sahaya ahli kitab adalah dihalalkan sekalipun >perkahwinan dengan wanita hamba sahaya ahli kitab adalah haram.

7-Segala sembelihan selain daripada ahli kitab (yahudi dan nasrani) adalah tidak halal yakni haram sama sekali memakannya mengikut pendapat jumhur ulama. Seperti haram memakan sembelihan majusi atau penyembah berhala dan >selainnya yang tiada kitab (samawi) bagi mereka.

8-Pendapat Qurtubi; Ibn Abbas mengatakan bahawa maksud firman Allah taala: "Dan janganlah kamu memakan daripada apa-apa (sembelihan) yang tidak disebut nama Allah ke atasnya", dinasakhkan dengan maksud firman Allah taala:

"Dan makanan (sembelihan) golongan yang diberikan kitab (ahli kitab) adalah halal bagi kamu".


Ahli kitab bermaksud Yahudi dan Nasrani, sekalipun nasrani menyebut pada sembelihannya; 'dengan nama al maseh', atau yahudi menyebut; 'dengan nama uzair' kerana mereka melakukan sembelihan itu dengan mengikut pegangan dan hukum agama mereka.-Wallahu a'lam.

9-'Atha' mengatakan halal memakan sembelihan nasrani sekalipun ia menyebut dengan nama al maseh pada sembelihannya. berdasarkan keharusan Allah pada >halal memakan sembelihan ahli kitab.

10-Abi Darda' pula berpendapat halal memakan sembelihan ahli kitab sekalipun ia menyebut pada sembelihan itu dengan nama 'sarjis' (nama gereja).

11-Sebahagian yang lain pula berpendapat apabila didengari ahli kitab menyebut pada sembelihannya selain nama Allah (samada al maseh atau uzair >atau nama gereja) maka tidak boleh dimakan sembelihan itu. berdalilkan maksud firman Allah taala dalam surah Al Anaam:121: "Dan janganlah kamu memakan daripada apa-apa (sembelihan) yang tidak disebut nama Allah ke atasnya".

12-Imam Malik pula berpendapat bahawa memakan sembelihan ahli kitab yang disebut padanya selain nama Allah adalah makruh.

13-Pandangan Dr Yusuf Al Qardhawi tentang beberapa permasalahan tentang sembelihan ahli kitab:
1)Ahli kitab pada asalnya adalah ahli tauhid maka dirukhsahkan (dibolehkan) orang Islam memakan sembelihan mereka.

2)Halal sembelihan dan pemburuan mereka dengan sebab

3)firman Allah taala di dalam surah Al Maidah ayat 5 membawa maksud yang umum iaitu segala jenis makanan; sembelihan, bijirin dan seumpanya selagi mana ia bukan haram pada ainnya (bahannya) seperti bangkai, darah yang dibekukan dan daging babi. Maka haram dengan ijmak memakannya samada ia dari sembelihan ahli kitab atau orang Islam.

4)Permasalahan sembelihan untuk gereja dan perayaan mereka:
i-Apabila tidak didengari mereka menyebut selain nama Allah pada sembelihan itu seperti menyebut al maseh atau uzair, maka sembelihannya >itu adalah halal dimakan.
ii-Adapun apabila didengari mereka menyebut selain Allah dengan nama-nama di atas maka sebahagian fuqaha' berpendapat sembelihan itu>adalah diharamkan memakannya kerana ia dari apa yang disembelih selain >nama Allah.
iii-Setengah yang lain pula berpendapat ia adalah halal dimakan kerana Allah telah mengharuskan bagi kita makanan mereka dan Dia lebih mengetahui dengan apa-apa yang mereka ucapkan.
iv-Abi Darda' ditanya tentang kibas yang disembelih untuk gereja; adakah boleh dimakannya? maka Abi Darda' menjawab: 'Allah taala memaafkan. Sesungguhnya mereka itu adalah ahli kitab dan makanan mereka adalah halal bagi kita begitu juga makanan kita halal bagi mereka'. Lalu ia menyuruh sahabat yang bertanya memakannya.
v-Imam Malik pula berpendapat sembelihan untuk gereja dan perayaan >mereka adalah makruh dimakan dan ia tidak haram. Imam Malik memakruhkan sembelihan itu kerana dibimbangi akan termasuk dalam sembelihan yang bukan untuk Allah, dan tidak pula mengharamkannya kerana maksud firman Allah pada surah Al Anaam itu; dinisbahkan bagi golongan ahli kitab, sekiranya ia adalah untuk tuhan-tuhan mereka dengan maksud ibadat maka tidak boleh memakannya. adapun apa yang disembelihinya dan mereka memakannya sebagai makanan mereka maka ia adalah dibolehkan dengan umum maksud firman Allah; "Dan makanan ahli kitab...".Wallahu a'lam.

5-permasalahan sembelihan mereka dengan cara kejutan elektrik dan seumpamanya:
i-Al Qadhi Ibn Arabi dalam mentafsirkan maksud surah Al Maidah ayat 5 mengatakan ia adalah dibolehkan walaupun cara sembelihan itu tidak sama dengan cara sembelihan orang Islam. kerana Allah taala telah mengharuskan makanan mereka ke atas kita secara mutlak. tambah beliau lagi apa-apa yang dipandang halal di sisi pegangan agama mereka maka ia adalah halal bagi kita melainkan apa yang mereka dustai terhadap Allah di dalam agama mereka.
ii-Sekiranya apa-apa yang mereka makan bukan dengan cara sembelihan seperti melalui cekikan atau menghentak kepala iaitu bukan dengan niat sembelih maka ia dikira sebagai bangkai dan hukumnya adalah haram memakannya.
iii-Syarat bagi halal memakan dan mengimpot bahan tenusu dari negara ahli kitab selagi mana ia adalah diiktibarkan sebagai suatu sembelihan yang halal maka ia adalah halal bagi kita berdasarkan umum ayat-walaupun sembelihan itu dengan cara kejutan elektrik dan seumpamanya (yang dianggap cara sembelihan)
iv-Adapun bahan tenusu dari negara bukan ahli kitab seperti negara komunis dan seumpamanya maka tidak dibolehkan sama sekali dalam apa keadaan sekali pun.

KEDUA
Apakah golongan ahli kitab masih lagi wujud dalam dunia hari ini?
Inilah persoalannya...ulama sebenarnya pun masih khilaf tentang masalah itu..namun dalam dunia hari ini, bolehkah kita meletakkan jaminan bahawa golongan ahli kitab yang masih berpegang teguh dengan ajarannya yang asal dari kitab Taurat dan Injil itu masih kedapatan lagi.. dari sudut sembelihan memang ia adalah masih dalam tanda tanya...namun dari sudut perkawinan..kini sudah tiada lagi kriteria-kriteria yang membolehkan seorang lelaki muslim itu mengahwini wanita ahli kitab (?)..kerana di antara syarat dibolehkan mengahwini wanita ahli kitab itu ialah seorang muhsinat; yang menjaga diri daripada perbuatan zina dan menjaga soal kesucian diri, hadas besar dan seumpamanya... sekadar itu maklum balas sebagai perbincangan..apa yang baik dari Allah dan yang kurang dari kelemahan diri ini..

wassalam.

rujukan:
1-Iqna'
2-Feqh Minhaji-'Ala Mazhabi Imam Syafie
3-Al Jamie Li Ahkamil Quran
4-Tafsir Ibn Kathir
5-Rawabie Li Soubuni
6-Al Halal Wal Haram fil Islam-Al Qardhawi
7-Baijuri

RAIH PAHALA, Sebarkan Artikel Ini !

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...