Senin, 30 April 2012

Metode Imam Nawawi dalam menceritakan perkataan-perkataan dan penjelasan dari segi pengeluaran dan cara tarjih penjelasanya.


Metode Imam Nawawi dalam menceritakan perkataan-perkataan dan penjelasan dari segi pengeluaran dan cara tarjih penjelasanya.
(dalam madzhab syafi'i)
orang yang mentelaah karangan Imam Nawawi mengetahui bahwasanya beliau menamai pendapat-pendapat Imam Syafi’i dengan sebutan qoul, pendapat-pendapat sahabatnya dengan sebutan wujuh, dan perbedaan penganut madzhab dalam menyampaikan madzhab Syafi’i dengan sebutan thoriq.
Al aqwal adalah :  penisbatan pada Imam Syafi’i
Al awjah adalah :  pendapat-pendapat hasil istimbat para fuqoha' syafiiyah (pengikut syafii ) berdasarkan kaidah-kaidah dan ushul Imam Syafi’i.Dan terkadang mereka berijtihad tanpa memperhatikan  perkataan Imam Syafii. Oleh sebab itu tidak boleh menisbatka perkataan kepada Imam Syafi’i. Ini adalah pendapat yang pling benar menurut  Imam Nawawi.
At-thoriq adalah  : perbedaan   penganut madhab dalam menyampaikan madhab.
contoh : dalam  masalah ini ada dua perkataan atau sisi. Atau, tidak boleh mengatakan satu perkataan saja atau satu sisi saja. Terkadang penganut madzhab Syafi’i menggunkan dua sisi dalam dua tema atau sebaliknya.
Imam Nawawi telah menjelaskan sebab memutlakkan kata ( atthoriq ) atas (wujuh). Begitu pula sebaliknya. Lalu Imam Nawawi berkata : sesungguhnya mereka menggunkan ini. karena At-thoriq dan Al-wujuh  terhimpun  dari perkataan teman-taman.
Yang dimaksud dengan penyampaian sahabat-sahabat  yaitu sebagian mereka menetapkan dengan ketetapan dua perkataan dalam sebuah permasalahan dan menetapkan dengan ketetapan satu perkajaan saja dalam permasalahan lain.

Ma’ajim mustholahat fiqh  Madzhab Syafi’i.
1.      Kitab (Ghoribul Alfazd allati isti;maluha alfuqoha) karangan Syaikh muhammad bin Ahmad bin Al-Azhar Al-Harawi Abi Manshur wafat tahun 370 H.  Didilamnya terkumpul lafadz-lafadz yang dipakai  para fuqoha’ dalam satu jilid dan dijadikan sandaran dalam menafsirkan permasalahan berkenaan dengan bahasa yang berkaitan dengan fiqh.
2.      Kitab (Tahdzibul Asma’ wal Lughot) karangan Abi Zakariya Muhyiddin bin Syarfun Annawawi wafat pada tahun 676H.
Imam Nawawi telah mengumpulkan dalam kitab Almushtholahat Alfiqhiyyah yang diperolah didalam  enam kitab mazhab Syafi’i.
      Mentadabburi apa yang dikatakan Imam An-Nawawi  pada Muqoddimah Kitab ini.
      Mukhtashor Abi Ibrohim Almazini, Almuhadzdzab, Attanbih, Alwashith, alwajiz, dan rhoudhoh adalah kitab yang saya ringkas dari kitab syarh Alwajiz karangan Imam abi Al qosim Ar-rofi’i.
3.      Kitab (Al-Mishbah Al-Munir fii ghoribi syarh Alkabir lirrofi’i) karangan Abi Al-Abbas, Ahmad bin ‘Ali alfayumi kemudian Alhamawi wafat tahun 770H.

Pengertian pendiri Madzhab
Pendiri madzhab al hanabilah yaitu Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Abu Abdillah Asy-Syaibani.
Lahir di Baghdad tahun 164 H, dan dididik disana, dalam rangka menuntut ilmu itu beliau mengembara kepada para ulama yang berada di Bilad islamiyyah, seperti Makkah al-Mukarromah, madinah al-Munawwaroh, Yaman dan lain sebagainya untuk mendalami ilmu hadist dan fiqh kepada tokoh-tokoh besar dimasanya.

Keilmuan dan pujian ulama kepada Imam Ahmad.
Keilmuan Imam Ahmad diperbincangkan orang-orang saat beliau masih hidup bahkan keilmuan hadist dan atsar tersebar sedangkan beliau masih muda. Beliau mengambil ilmu dari syaikh-syaikh dan teman-temannya pun mengakui kedudukanya.
Ahmad bin Said Ar-rozi berkata: “tidaklah aku melihat seseorang yang paling hafal hadist rasululloh, dan yang paling mengetahui ilmu fiqh yaitu Ahmad bin Hambal.”
Imam Syafi’i juga berkata ketika pergi ke Mesir menuju (Bagdad): "Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal”.
Ibrahim Al Harbi memujinya: “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.

Guru-guru Imam Ahmad bin hambal
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari seratus ulama. Sebagaimana yang disebutkan Ibnu Al-jauzi rahimahulloh dalam Kitab “Al-Munaqibul Imam Ahmad”  Namun, beliau mengambil dari mereka dari tingkatan yang berda-beda.
1.      Guru yang berpengaruh dalam ilmu hadist adalah Hasyaim bin Basyir alwaa
sithi wafat tahun 183H.
Saat umur beliau mencapai 16 tahun beliau mempelajari hadist dari syaikh hasyaim selama empat sampai lima tahun
2.      Guru yang perpengaruh dalam ilmu fiqih adalah imam syafi’i. 

Murid-murid beliau
Murid Imam Ahmad sangat banyak, ada yang mengambil hadis dan sebagian yang lain mengambil fiqh. Diantara yang masyhur adalah:
1.      Sholih bin Ahmad bin Hambal. Adalah anak pertama beliau. Seorang anak yang zuhud sebagaimana ayahnya, Sholih mempelajari ilmu hadist dan fiqh dari ayahnya. Kemudian menyampaikan pada masyarakat apa yang telah difatwakan ayahnya. Wafat tahun 266 H.
2.      Abdulloh bin Ahmad bin Hambal , merupakan adik dari Sholih bin Ahmad bin Hambal, dia khusus mempelajari ilmu hadis dari ayahnya.wafat tahun 290 H.
3.      Ahmad bin Muhammad bin Hani’ abu bakr al-Atsrom.
Meriwayatkan dari ahmad masalah-masalah fiqh dan banyak meriwayatkan darinya. Sebelum belajar kepada Imam Ahmad dia menyibukkah dirinya dengan ilmu hadist, takhrij hadist, dan ikhtilaf.maka ketika bersama Imam Ahmad meringkas ilmu-ilmu hadist. Seprti kesholihan ,kejuhudan dan kewaroan Imam Ahmad. Beliau wafat 260 H. Ibnu hajar menyebutkan tahun 261 H, dan pendapat lain pada tahun 273 H.
4.      Ibrohim bin Ishaq al-Harbi
5.      Ahmad bin Muhammad bin alHijaj Abu Bakr al-Marwazi.
Adalah sahabat yang paling dekat dengan Imam Ahmad dia yang memandikan jenazah Imam Ahmad. Beliau wafat 275H

Dalil dalil yang dipakai mazhab hanabilah
1.      Alquran
2.      Sunnah Nabawiyyah
3.      Perkataan sahabat
4.      Ijma’
5.      Qiyas
6.      Istishab
7.      Masholihul mursalah
8.      Saddu dzaroi

Negara Yang Tersebar Mazdhab Hambali
Imam Ahmad wafat tahun 241 H.  Dan madhabnya tersebar di beberapa tempat yaitu Bahgdad, Mesir, Palestina, dan Najd, namun pengikutnya sedikit sekali karena beberapa sebab sebagai berikut:
1.      Bahwasanya orang-orang hanabilah sangatlah berpegang teguh terhadap masalah furu’ dalam hal fiqh. itu dikarenakan fitnah dan tekanan yang ditimbulkan para pemimpin pada zaman itu.
2.      Bahwasanya para pengikut hanabiah tidak mendekati  para penguasa. Dan mereka tidak loyal terhadap penguasa, mereka tidak loyal terhadap para qodly, atau siapapun yang mempunyai kekuasaan. Mereka tidak mengikuti cara orang-orang yang bermadzhab hanafy, dan para sahabat imam Malik yang mendekat kepada para penguasa, dan tidak pula loyal kepada siapapun yang mempunyai kekuasaan dengan tujuan agar madzhab mereka mempunyai tempat di sisinya.
3.      Mereka sanagtlah fanatik dalam menentang masalah khalqul qur’an yang merebak di zaman imam Ahmad, dan sanagatlah merugi orang-orang yang menyelisihi perkataan imam Ahmad.
Dan inilah tiga sebab yang menjadikan pengikut madzhab hanabilah sedikit.
RAIH PAHALA, Sebarkan Artikel Ini !

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...