Senin, 30 April 2012

PERBEDAAN ANTARA RIWAYAT DAN AQWAL.


PERBEDAAN ANTARA RIWAYAT DAN AQWAL.
Sebagian ahli fiqih madzhab maliky berpendapat bahwasanya yang dinamakan riwayat adalah perkataan imam Malik. Adapun aqwal adalah perkataan para sahabatya, dan yang lain dari kalangan muta’akhirin.
    Dan yang lain berpendapat bahwa riwayat adalah perkataan imam Malik. Adapun aqwal  terkadang perkataan imam Malik atau bisa juga seliannya.
Artinya :Riwayat adalah perkataan imam Malik, dan ini merupakan kesepakatan fuqoha’ maliky. Dan mereka berbeda pendapat tentang aqwal.
Urutan Riwayat dan Aqwal Dalam Penulisan.
Tidak ada perbedaan dikalangan jumhur fuqoha’ madzhab maliky untuk mengedepankan pendapat imam Malik dari pendapat-pendapat selainnya, dikarenakan dia adalah imam madzhab dan merupakan asas dari  madzhab itu.
            Kemudian mengedepankan perkataan Ibnu Qosim dari perkataan yang lain yang terdapat di kitab-kitab. Itu dikarenakan beliau adalah sahabat imam Malik yang menemani lebih dari dua puluh tahun, dan tidak meninggalkannya sampai imam Malik wafat.
Kemudian mengedepankan perkataan selain beliau yang tersebut dalam mudawwanah dari pada perkataan Ibnu Qosim yang tidak tersebut di dalam mudawwanah, itu dikarenakan sudah tidak diragukan lagi bahwa mudawwanah mengukuhkan keshohihan.
Syaikh Ali bin Abdurrahman Ath-Thinjy Abu Hasan (w 734 H) berkata “perkataan Malik di dalam mudawwanah dikedepankan dari pada perktaan Ibnu Qosim yang ada dalam mudawwanah, dikarenakan imam Malik lebih mulia. Dan perkataan Ibnu Qosim yang ada dalam mudawwanah lebih dikedepankan dari pada perkataan selain beliau yang ada di dalam mudawwanah, dikarenakan beliau lebih mengerti tenteng madzhab Malik.Dan perkataan selain beliau yang ada pada mudawwanah lebih dikedepankan dari pada perkataan Ibnu Qosim sendiri yang tidak ada dalam mudawwanah, itu dikarenakan keshohihannya.
Dan ini adalah urutan-urutan yang di tetapkan oleh jumhur Malikiyyah
Dan dalam “at-tabshir” karya Ibnu Farhun terdapat urutan-urutan yang tidak terkenal dari Abu Muhammad Sholih, yaitu :
  1. Berfatwa dengan perkataan Malik yang ada dalam “al-muwatho’”.
  2. Jika tidak ditemukan maka dengan perkataannya yang ada dalam al-mudawwanah.
  3. Jika tidak ditemukan perkataan imam Malik, maka dengan perkataan Ibnu Qosim          yang ada dalam mudawwanah.
  4. Jika tidak ditemukan perkataan Ibnu Qosim yang ada dalam mudawwanah, maka dengan perkataan beliau yang ada di selain mudawwanah.
  5. Jika tidak ditemukan, maka dengan perkataan selain beliau yang ada dalam mudawwanah.
  6. Jika tidak ditemukan, maka dengan perkataan-perkataan ahlu madzhab.
Dan jika diperhatikan, urutan ini mengedepankan pendapat imam Malik yang ada dalam “al-muwatho’” dibandingkan dengan perkataannya yang ada dalam al-mudawwanah.Dan ini adalah urutan dan derajat yang disepakati oleh Abu BakarMuhammad At-Tamimy (w 451 H).
Dan dipandang bahwa al-muwatho’ adalah kitab yang lebih shohih setelah kitabullah, kemudian al-mudawwanah.Dan sebagian fuqoha’ maliky meletakkan al-muwatho’ setelah kitabullah, dan ini tidak sesuai dengan pendapat jumhur ulama’ yang mengedepankan shohihain dibanding al-muwatho’.
Dan secara umum kitab-kitab sunah yang lebih shohih adalah : Shohih Bukhory, Shohih Muslim, kemudian Muwatho’ imam Malik.
Hukum Jika Terdapat Dua Pendapat Imam Malik atau Lebih, Dalam Satu Masalah.
Jika ditemukan dua pendapat imam Malik bahkan lebih dalam satu masalah, maka dalam hal ini wajib di teliti terlebih dahulu waktunya.
Maka jika sudah diketahui sejarah dan waktu dari dua perkataan ini maka yang digunakan adalah perkataan yang terakhir.
Dan jika tidak diketahui sejarah dan waktu maka melihat kepada ahli fatwa dan ahli ijtihad, yang lebih jelas mereka mengetahui yang pertama dari yang terakhir dikarenakan pengetahuannya terhadap madzhab, maka dia ini mengetahui dasar dalil yang dipakai imamnya, dan dalil yang dipakai oleh siapa yang berijtihad dalam madzhab tersebut, dan metode yang diterapkan mereka, maka dari itu dia sangat yakin bahwa hukum yang menunjukkan makna ini atau itu adalah rajih.
Fatwa Dari Kitab Autentik
Pada dasarnya dalam berfatwa hendaknya dengan cara periwayatan oleh orang yang adil dari orang sebelumya yang juga adil, dari kalangna imam madzhab atau para sahabat imam Malik.
Maka bolehkah berfatwa dari kitab-kitab madzhab yang selain dari jalur periwayatan, dan juga tidak disandarkan kepada pengarang?.
            Yang jelas para ulama’ bersepakat tentang bolehnya berfatwa dari kitab-kitab yang mashur lagi dipercaya yang bukan dari jalur periwayatan, dan yang terjamin keshohihan apa yang ada padanya dari pemalsuan ataupun penyelewengan, dengan ketsiqqohan para fuqoha’.
            Adapun kitab-kitab yang asing yang tidak mendapatkan jaminan dengan ketsiqohan ulama’, dan begitu juga kitab-kitab yang baru-baru ini disusun yang tidak terkenal kekuatan penukilan terhadap kitab-kitab yang masyhur, dan penulisnya pun tidak tersifati dengan sifat adil, maka haram hukumnya berfatwa berlandaskan kitab-kitab ini.
Syaikh Izzudien bin Abdussalamberkata :
Dan adapun berlandaskan kitab-kitab fiqh yang shohih yangterpercaya maka ulama’ bersepakat pada zaman ini dalam memperbolehkan penyandaran kepada kitab tersebut, karena ketsiqohan itu hasilnya sama saja dengan apa yang dihasilkan lewat jalur periwayatan
Syaikh Al-Qirafy berkata :
Pada dasarnyadilarang berfatwa kecuali dengan apa yang diriwayatkan oleh orang yang adil dari orang yang adil kemudian dari mujtahid yang diikuti oleh mufti itu, sampai hal itu shohih menurut mufti sebagaimana hadits-hadits itu shohih menurut mujtahid itu sendiri”.karena menukil dalam agama Allah itu ada dua tempat,dan menurut hal ini maka haram hukumnya berfatwa dengan dasar selain itu.Di samping itu, karena manusia telah menyebar pada zaman ini sehingga mereka berfatwa dengan buku-buku yang mereka ketahui saja, dan hal ini merupakan bahaya besar dalam agama, dan mereka telah keluar dari kaidah-kaidah yang ada. Di samping itu pula dikarenakan kitab-kitab yang masyhur, demi kemasyhurannya menjauhsangatauhdari penyelewengan dan pemalsuan, maka manusia bersandar pada konteks dhohirnya saja dan mengabaikan riwayat-riwayat yang senada, dan pula karena bahasa “an-anah” (dari ini dari itu) dari orang yang adil merupakan unsur yang urgen dalam menjauhannya dari penyelewegan, an sesungguhnya bahasa itu adalah dasar yang urgen dalam sebuah kitab, dan sunnah. Maka mengabaikan ilmu nahwu, bahasa dan shorof, dahulu maupun sekarang, itu membantu orang-orang pada zaman ini untuk tidak mempelajarinya dalam kitab-kitab fiqh, bahkan menyelewengkan.
Istilah-Istilah Umum
Ahli Madinah :
1.      Abu Amru Utsman bin ‘Isa bin Kinanah (w 185 H)
2.      Abu Muhammad Abdullah bin Nafi’ maula Bani Mahzum (w 186 H)
3.      Abu Marwan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Al-Majisun (w 212 H)
4.      Muhammad bin Salamah Al-Mahzumy (w 216 H)
5.      Abu Mus’ab Muthorrif bin Abdullah bin Yasaar (w 220 H)

Ahli Mesir :
Menunjukkan nama-nama berikut :
1.      Abu Abdullah Abdurrahman Al-Itqy bin Al-Qosim (w 191 H)
2.      Abu Muhammad Abdullah bin Wahab Al-Qirsyi (w 197 H)
3.      Abu Umar Ashab bin Abdul Aziz (w 204 H)
4.      Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakim (w 210 H)
5.      Ashbagh bin Al-Faraj Abu Abdullah (w 225 H)
6.      Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim Al-Iskandary Ibnu Al-Mawwaz (w 269 H)
7.      Abu Ali Sind bin Inan Al-Asdy Al-Qodly (w 451 H)
Ahli Maroko :
1.      Abu Muhammad bin Abdullah bin Abu Zaid Al-Qoirawany (w 386 H)
2.      Abu Hasan Ali bin Muhammad Al-Maghofiry Ibnu Al-Qobisy (w 403 H)
3.      Abu Bakar Muhammad bin Muhammad bin Al-Libaad (w 333 H)
4.      Abu Walid Sulaiman Al-Bajy (w 474 H)
5.      Abu Hasan Ali bin Muhammad Ar-Robi’y Al-Lakhmy (w 478 H)
6.      Abu Qosim Abdurrahman Al-Qoirawany bin Mahriz (w 450 H)
7.      Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Al-Qurthuby bin Abdul Baar (w 643 H)
8.      Abu Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd (w 520 H)
9.      Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al-Asybily Ibnu Al-Araby (w 542 H)
10.  Al-Mughiroh bin Abdurrahman Al-Mahzumy dari sahabat besar imam Malik (w 188 H)
11.  Abu Ishaq Muhammad bin Al-Qosim bin Syu’ban (w 355 H)
12.  Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Ash-Shoqly (w 451 H)
13.  Abu Bakar Abdullah Muhammad bin Aly At-Tamimy Al-Maziry dinisbatkan dengan Mazir di daerah Shoqliyyah (w 536 H)
Ahli Iraq :
Yang dimaksud dengan ahlu Iraq adalah :
1.      Al-Qodliy Isma’il bin Ishaq Al-Azdy (w 282 H)
2.      Al-Qodliy Abu Hasan bin Al-Qishor Ali bin Ahmad (398 H)
3.      Abu Qosim Abdullah bin Hasan bin Al-Jalab (w 378 H)
4.      Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al-Abhary (w 395 H)
5.      Al-Qodliy Abdul Wahab Abu Muhammad bin Nashr (w 422 H)
6.      Abu Bakar Muhammad bin Ath-Thoyyib Al-Baqolany (w 403 H)
7.      Al-Qodliy Abu Faraj Amru bin Amru (w 330 H) atau (w 331 H)

Perhatian :
            Jika terjadi perbedaan antara ahli Mesir dan ahli Madinah, maka mayoritas yang dikedepankan adalah ahli Mesir.Karena mereka lebih tahu tentang madzhab dengan adanya Ibnu Wahab, Ibnu Qosim dan Asyhab.
       Dan jika terjadi perbedaan antara ahli Maroko dengan ahli Iraq maka yang dikedepankan adalah ahli Iraq.Karena diantara mereka ada dua orang syaikh (Ibnu Aby Zaid dan Ibnu Qobisy) ada pula yang menyebutkan (Ibnu Abi Zaid dan Abu Bakar Al-Abhary).
       Dan jika tejadi perbedaan antara ahli Madinah dengan ahli Maroko, maka yang dikedepankan adalah ahli Maroko.Dikarenakan disana ada dua bersaudara (Muthorrif dan Ibnu Majisun), dan mereka berdua mempunyai kedudukan yang stretegis dalam madzhab maliky.Al-Adawy berkata dalam kitabnya yang bernama khasyiyyah“dikatakan seperti itu karena mereka berdua dan pengikutya sering sepakat atas suatu hukum”.

Dua Bersaudara :
1.      Muthorrif bin Abdullah bin Yasaar bin Abu Mush’ab. Dan beliau adalah anak saudara perempuan imam Malik (w 220 H).
2.      Ibnu Majisun, Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah bin Abu Majisun Abu Marwan (w 212 H). Majisun adalah laqab Abu Salamah dan nama aslinya adalah Maimun.
Dua Syaikh :
1.      Ibnu Abu Zaid Al-Qoirawany Abdullah seorang imam madzhab Maliky dimasanya (w 386 H)
2.      Ibnu Al-Qobisy Ali bin Muhammad bin Kholf  (w 403 H)
Dikatakan :
1.      Ibnu Abu Zaid Al-Qoirawany
2.      Abu Bakar Al-Abhary Muhammad bin Abdullah bin Muhammad, seorang syaikh madzhab Maliky di Iraq (w 375 H)
Dua Teman Dekat :
1.      Asyhab bin Abdul Aziz bin Dawud Abu Umar, penganti Ibnu Qosim (w 204 H)
2.      Ibnu Nafi’, Abdullah bin Sa’id bin Nafi’
Dikatakan seperti itu karena keduanya sama-sama buta
Dua Qodly :
1.      Al-Qodliy Abu Hasan bin Al-Qishor Ali bin Ahmad (398 H)
2.      Al-Qodliy Abdul Wahab Abu Muhammad bin Nashr (w 422 H)
Tiga Qodly :
    Adalah dua qodly tersebut ditambah Abu Walid Sulaiman Al-Bajy, Sulaiman bin Kholf  (w 474 H)
Muhammad :
      Jika ada lafadz Muhammad dalam madzhab maliky maka dia adalah, Muhammad bin Al-Mawwaz (w 269 H)
Dua Muhammad :
1.      Muhammad bin Ibrahim Al-Iskandary Ibnu Al-Mawwaz (w 269 H)
2.      Muhammad bin Sakhnun (w 255 H)
Orang-Orang Yang Bernama Muhammad :
Ada empat orang bernama Muhammad dalam madzhab maliky yang berkumpul pada satu zaman. Yang tidak ada dalam zaman yang lain.
Dua Orang Qurawy :
1.      Muhammad bin Ibrahim bin Abdus (w 260 H)
2.      Muhammad bin Abdussalam bin Sakhnun (w 255 H)
Dua Orang Mesir :
1.      Muhammad bin Ibrahim Al-Iskandary Ibnu Al-Mawwaz (w 269 H)
2.      Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam (w 268 H)
Imam :
 Jika ada kata-kata imam dalam fiqh maliky maka dia adalah, Abu Bakar Abdullah Muhammad bin Aly At-Tamimy Al-Maziry (w 536 H)
Syaikh :
Ada dua orang syaikh dalam madzhab maliky :
Jika Ibnu Arafah berkata “syaikh itu” berarti dia adalah Abu Muhammad bin Abdullah bin Abu Zaid Al-Qoirawany (w 386 H)
Dan jika yang berkata adalah Bahram Ad-Darimy maka yang dimaksud adalah syaikhnya sendiri yaitu Kholil bin Ishaq Shohib “Al-Mukhtashor”
Syaikhonaq :
Jika Az-Zarqony memakai istilah ini maka yang dimaksud adalah Ibrahim bin Muhammad Al-Laqony (w 896 H)
Al-Ustadz :
Yang dimaksud dengan istilah ini dalam madzhab maliky adalah Syaikh Abu Bakar Muhammad bin Walidyang terkenal dengan Ath-Thurthusy, dan juga terkenal dengan Ibnu Abi Randiqoh (w 520 H)
Ash-Shoqliyan :
1.      Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin  Yunus (w 451 H) dan dia yang dimaksud oleh Kholil rahimahullah dalam “Al-Mukhtashor” pada bab Tarjih.
2.      Abu Muhammad Abdul Haq bin Muhammad Al-Qarsy Ash-Shoqly, wafat di Iskandariyyah (w 466 H)
RAIH PAHALA, Sebarkan Artikel Ini !

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...