Senin, 02 April 2012

SHALAWAT BADAR DALAM TINJAUAN SYARI’AT, Sejarah Munculnya Shalawat Badariyah, Lafadz Shalawat Badar, Pengertian Tawasul Secara Bahasa,

SHALAWAT BADAR DALAM TINJAUAN SYARI’AT


III.I      Sejarah Munculnya Shalawat Badariyah

Shalawat Badar adalah rangkaian shalawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi r serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai 'Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab "Tanwir al-Hija" yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib 'Alawi bin 'Abbas bin 'Abdul 'Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan judul "Inarat ad-Duja".


Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai 'Ali Manshur sekitar tahun 1960 an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai 'Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai 'Ali, yang memang mahir membuat syair 'Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah U untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum muslimin khususnya Indonesia.

Dalam keadaan tersebut, Kiyai 'Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih - hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi r. Setelah siang, Kiyai 'Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai 'Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai 'Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai "Shalawat al-Badriyyah" atau "Sholawat Badar".maka terjadilah hal yang mengherankan keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain.

Mereka menceritakan bahwa pada waktu pagi shubuh mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai 'Ali untuk membantunya kerana akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang membuat persiapan acara tersebut namun kebanyakan orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib 'Ali bin 'Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai 'Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai 'Ali menerima para tamu istimewanya tersebut. Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib 'Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai 'Ali tersebut. Tentu saja Kiyai 'Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seorangpun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah salah satu kekeramatan Habib 'Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa banyak bicara, Kiyai 'Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu.

Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai 'Ali, Habib 'Ali menyerukan agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai 'Ali tersebut. Selanjutnya, Habib 'Ali Kwitang telah mengundang para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yang diundang diantaranya ialah Kiyai 'Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai 'Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majlis-majlis ta'lim dan pertemuan.

Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu Populer. Di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi sendiri di Kwitang tidak pernah tinggal pembacaan Shalawat Badar tersebut setiap minggunya. Untuk lebih lengkapnya tentang cerita ini dapat membaca buku yang berjudul "ANTOLOGI Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU" yang disusun oleh H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan.[1]


IV.II      Lafadz Shalawat Badar

على طه رسول الله
على يس حبيب الله
وبالهادى رسول الله
بأهل البدر يا الله
من الأفات والنقمة
بأهل البدر يا الله
جميع أذية واصرف
بأهل البدر يا الله
من العاصين والعطبا

بأهل البدر يا الله
وكم من ذلة فصلت
بأهل البدر يا الله
وكم أوليت ذا الفقر
بأهل البدر يا الله
جميع الأرض مع رحب
بأهل البدر يا الله

وجل الخير والسعد
بأهل البدر يا الله
بل اجعلنا على الطيبة
بأهل البدر يا الله
بنيل جميع حاجاتى
بأهل البدر يا الله

بنيل مطالب منا
بأهل البدر يا الله
وذو فضل وذو عطف
بأهل البدر يا الله
بلا عد ولا حصر
بأهل البدر يا الله
صلاة الله سلام الله
صلاة الله سلام الله
توسلنا ببسم الله
وكل مجاهد لله
الهى سلم الأمة
ومن هم ومن غمة
الهى نجنا واكشف
مكائد العدا والطف
الهى نفس الكربا

وكل بلية ووبا
وكم من رحمة حصلت
وكم من نعمة وصلت
وكم أغنيت ذا العمر
وكم عافيت ذا الوزر
لقد ضاقت على القلب
فأنج من البلا الصعب

أتينا طالبى الرفد
فوسع منحة الأيدى
فلا تردد مع الخيبة
أيا ذا العز والهيبة
وإن تردد فمن يأتى
أيا جالى الملمات

الهى اغفر واكرمنا
ودفع مساءة عنا
الهى أنت ذو لطف
وكم من كربة تنفى
وصل على النبي البر
وال سادة غر


Rahmat dan keselamatan Allah,
Semoga tetap untuk Nabi Thaaha utusan Allah,
Rahmat dan keselamatan Allah,
Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah.

Kami berswasilah berkah “Basmalah”,
Dan dengan Nabi yang menunjukkan lagi utusan Allah,
Dan seluruh orang yang berjuang karena Allah,
Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Ya Allah semoga Engkau menyelamatkan ummat,
Dari bencana dan siksa,
Dan dari susah dan kesempitan,
Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Ya Allah semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan,
Dan semoga Engkau menjauhkan tipu daya musuh-musuh,
Dan semoga Engkau mengasihi kami sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Ya Allah semoga Engkau menghilangkan beberapa kesusahan,
Dari orang-orang yang bermaksiat dan semua kerusakan,
Dan semoga Engkau hilangkan semua bencana dan wabah penyakit,
Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Maka sudah beberapa rahmat yang telah berhasil,
Dan sudah beberapa dari kehinaan yang dihilangkan,
Dan sudah banyak dari nikmat yang telah sampai,
Sebab berkahnya sahabat ahlli badar ya Allah.

Sudah berapa kali Engkau memberi kekayaan orang yang makmur,
Dan berapa kali Engkau memberi nikmat kepada orang yang fakir,
Dan berapa kali Engkau mengampuni orang yang berdosa ,
Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Sungguh hati manusia merasa sempit di atas tanah yang luas ini,
Karena banyaknya marabahaya yang mengerikan,
Dan malapetaka yang menghancurkan,
Semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang mangerikan,
Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Kami datang dengan memohon pemberian/pertolongan,
Dan memohon agungnya kebaikan dan keuntungan,
Semoga Allah meluaskan anugerah yang mekimpah limpah,
Dari sebab berkahnya ahli badar ya Allah.

Maka janganlah Engkau menolak kami serta menjadi rugi besar,
Bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik dan selalu bersuka ria,
Wahai Dzat yang punya keagungan dan Prabawa,
Dengan sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Jika Engkau terpaksa menolak hamba maka kepada siapakah kami akan datang mohon dengan mendapat semua hajat kami ,
Wahai Dzat yang menghilangkan beberapa bencana dunia dan akhirat hilangkah bencana-bencana hamba lantaran berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Ya Allah semoga Engkau mengampuni kami dan memuliakan diri kami dengan mendapat hasil beberapa permohonan kami dan menolak keburukan dari kami,
Dengan mendapat berkahnya sahabat ahli badar ya Allah .

Ya Allah Engkaulah yang punya belas kasihan dan punya keutamaan lagi kasih sayang,
Sudah banyaklah kesusahan yang hilang ,
dari sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.

Dan semoga Engkau melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Nya dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang taka terbilang dan tak terhitung,
Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para sayyid yang bersinar nur cahayanya sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah.[2]


IV.III   Pengertian Tawasul

IV.III.I  Pengertian Tawasul Secara Bahasa
Ibnu Manzhur berkata, “Al-Wasilah” maknanya : Mendekatkan diri. Fulan wassala (mendekatkan diri) kepada Allah dengan sesuatu wasilah, artinya : Ia melakukan suatu amal yang dengan ia berupaya mendekatkan diri kepada Allah U. Dan tawassala kepada-Nya dengan suatu wasilah, berarti ia mendekatkan diri kepada-Nya dengan suatu amalan.[3]

Al-Fairuuz Abadi mendefenisikannya,
وسل إلى الله توسيلا  : ia melakukan berbuatan untuk mendekatkan diri kepada
Allah ta’ala.
توسيلا  seperti kata : توسلا .[4]

Al-Fayumi berkata: Tawassala kepada Rabbnya dengan suatu wasilah, maknanya : ia mendekatkan diri kepada-Nya dengan perantara suatu perbuatan.[5]
Dan wasilah adalah sebab (perantara) yang mengantarkan kepada tujuan yang diinginkan.[6]
IV.III.II  Pengertian Tawasul Menurut Istilah Syara’

Sebuah ibadah yang dimaksudkan dengannya untuk memperoleh keridhaan Allah dan surga-Nya. Oleh karena itu, kita dapat katakan, “Semua jenis ibadah adalah wasilah (perantara) untuk menyelamatkan diri dari neraka dan untuk memperoleh surga.
Allah berfirman,
أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)….” (al-Isra’ : 57)

Jika anda berpuasa dibulan ramadhan, maka dikatakan, “Ini adalah wasilah untuk memperoleh ampunan dari Allah”, dan anda melaksanakan qiyam (shalat) ramadhan maka dikatakan, “Ini adalah wasialah untuk memperoleh ampunan dari Allah”, dan anda sungguh-sungguh mencari keutamaan lailatul qadar, maka dikatakan, “Ini adalah wasilah untuk ,memperoleh ampunan dari Allah”,  dan semua amalan ibadah tersebut harus dilakukan berlandaskan iman dan mengharap pahala dari Allah U. Sehingga, dengan demikian seluruh amal shaleh adalah wasilah, dan tujuan dari beramal shaleh itu seperti yang difirmankan Allah U,
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“…Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung…” (ali-Imran : 185)
أعوذ بالله من النار, وويل لأهل النار.
“Aku memohon perlindungan kepada allah dari neraka, dan celakalah para penghuni neraka.”[7])[8]

Nb : Sebuah karya ilmiyah telah selesai digarap oleh seorang thullab di Islamic Center Bekasi berupa Project Paper, yang menjawab semua hakikat dari shalawat nabi terkhusus shawalat badar yang banyak dilamalkan ummat. Silahkan bagi pembaca yang ingin mendownloadnya klik URL berikut ini : http://www.ziddu.com/download/19041390/shalawatbadar.rar.html


[1] http://agus-mustofa.blogspot.com/2009/04/awal-mula-shalawat-badar.html
[2] Dr. Muhammad Utsman al-Khusyt, Kumpulan Keistimewaan Shalawat Nabi Ditinjau Dari Beberapa Segi, Bandung, Husaini Bandung, Maret 1990 M. hal 87-92.
[3] Muhammad bin Mukrim bin Mandhur al-Afriiqi al-Mishri, Lisanul ‘Arab, Beirut, Daar Shoodir, cet I. juz 11, hal 724. (software maktabah syamilah)
[4] Tartib al-Qamus al-Muhith (4/552)
[5] Ahmad bin Muhammad bin 'Ali al-Muqorri al-Fayumi, al-Mishbah al-Munir Fi Ghoribisy Syarh al-Kabir Lirrofi'i, Beirut al-Maktabah al-'Ilmiyah, Juz: 2, hal: 660. (Software Maktabah Syamilah)
[6] Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utaimin, Majmu’ Fatawa Wa Rasail, Riyadh, Daarust Tsariya, Cet II, Thn 1414 H/1994 M. Juz: 5, hal:  279.
[7] Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dalam sunanya, bab : Ma ja a fil qiro'ah, juz : 1, hal  : 429, no. 1352. HR. Abu Dawud, no. 881, Ahmad dalam musndnya (4/347) dan lihat at-Thabrani (7/92), dari Abu Laila t.  Syaikh al-Albani mengatakan hadits ini dhaif. Begitu pula Abu Dawud mendhaifkannya dalam dhaif Abi Dawud.
[8] Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utaimin, Majmu’ Fatawa Wa Rasail, Riyadh, Daarust Tsariya, Cet II, Thn 1414 H/1994 M. Juz: 5, hal:  279-280.
RAIH PAHALA, Sebarkan Artikel Ini !

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...