Senin, 02 April 2012

shalawat badar

Shalawat bentuk jamak dari kata shalla atau shalat yang berarti: doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Arti bershalawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika shalawat itu datangnya dari Allah U berarti memberi rahmat kepada makhluk. Dan jika shalawat dari malaikat berarti memberikan ampunan. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin berarti suatu doa agar Allah U memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad r dan keluarganya.


Shalawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah U, serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad r, bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik shalawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).

Dalam ilmu tafsir, yang disebut dengan ‘bershalawat’ itu maknya banyak, tidak terbatas kepada doa semata. Karena itu didalam al-Qur’an al-karim (al-ahzab:56) kita menemukan adanya ayat yang menceritakan bahwa Allah U dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi r. Dan untuk itu umatnya pun diperintahkan untuk bershalawat kepada beliau juga.

Saling mendoakan satu sama lain adalah hal yang biasa dan telah menjadi syiar agama. Termasuk memberi salam kepada Rasulullah r dan bershalawat kepadanya. Kalau kita mendoakan keselamatan dan kepada seseorang bukan berarti kita meyakini bahwa dirinya ada dalam ketidak-selamatan. Doa keselamatan itu sama saja bila kita menyapa teman dengan mengatakan semoga anda sekeluarga dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Apakah bila kita menyapa demikian berarti teman kita itu sekeluarga sedang dirawat di rumah sakit?

Perintah shalawat kepada Rasulullah r merupakan suatu perkara yang telah jelas dan tegas disebutkan dalam firman Allah U maupun sunnah Rasulullah r. Agama islam merupakan agama yang paripurna tidak ada suatu masalahpun melainkan islam telah mengaturnya. Baik itu perkara yang berhubungan dengan manusia maupun perkara-perkara yang berhubungan dengan Allah. Dalam masalah ibadah kepada Allah sungguh umat manusia tidak berbuat semaunya menentukan tata cara beribadah. Karena semua bentuk ibadah harus dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Allah melalui Rasul-Nya Muhammad r.

Salah satu dari jenis ibadah tersebut adalah shalawat kepada Rasulullah r. Maka dalam bershalawat kepada Rasulullah r harus sesuai dengan apa yang diajarkan dan lafadznya pun harus menurut apa yang telah diajarkan Rasulullah. Jika tidak demikian maka shalawat tersebut termasuk hal yang bid’ah karena telah mengarang-ngarang lafadz shalawat.

Diantara sekian banyak shalawat yang lafadznya dibuat-buat adalah shalawat badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember, yang beliau tulis sekitar tahun 1960an. Jelas sekali shalawat ini merupakan shalawat bid’ah, karena lafadz shlawat tersebut tidak berdasarkan kepada petunjuk Rasulullah r.

Di dalam shalawat badar yang terdiri dari 28 bait itu, banyak orang menganggap bahkan meyakini bahwa shalawat badar itu mengandung fadhilah dan faedah yang besar sekali bagi siapa yang membiasakan membacanya.

Antara lain mereka menyakini shalawat tersebut untuk memohon keselamatan, bisa menghilangkan semua kesusahan, kesempitan dan segala yang menyakitkan; selamat dari bahaya musuh; untuk menangkis orang-orang yang berbuat kema’shiatan dan kerusakan, untuk memperoleh ampunan Allah, dihindarkan dari marabahaya dan bencana, mohon keuntungan dan meluaskan rezeki serta mendapatkan keberkahan dan sebagainya , dengan sebab berkah sahabat ahli badar. Selain itu juga mendapatkan pahala yang besar membaca shalawat ini.[1]

Dan seandainya mereka menggunakan shalawat ini untuk bertawasul kepada Nabi r supaya Allah mengabulkan keinginannya, maka ini adalah jenis tawasul yang tidak diperbolehkan karena bertawasul dengan orang yang sudah mati itu dilarang. Dan seandainya mereka mengucapkan shalawat ini karena bertawasul dengan kedudukan Nabi atau dengan dzat (pribadi) nya Nabi r, maka hal ini adalah  adalah keyakinan yang salah bahkan termasuk syirik.[2]

Perlu diketahui bahwa shalawat badar ini bukanlah dari Rasulullah r. Shalawat ini adalah buatan manusia yang sama sekali tidak ditunjang dengan dalil yang shahih. Atas dasar ini, maka shalawat ini adalah shalawat bid’ah yang sudah selayaknya untuk ditinggalkan. Otomatis, segala keutamaan yang dinisbatkan kepada shalawat ini adalah tidak benar.

Maka dari itu sepantasnyalah bagi kaum muslimin untuk menjauhi dan menghindari shalawat tersebut, dan mengingatkan saudara yang lainnya akan bahaya darinya. Jika kaum muslimin ingin melantunkan shalawat kepada Rasulullah, maka hendaklah mengikuti petunjuk dari Rasulullah r, diantaranya dia bisa membaca shalawat ibrahimiyah dan yang semisal dengannya yang bersumber dari hadits-hadits Rasulullah r. Wallahu A’lam Bishshowab



Saran

Setelah melihat kepada realita yang muncul di tengah-tengah meyarakat dengan semakin maraknya kebid’ahan-kebid’ahan, itu semua timbul dikarenakan minimnya pengetahuan agama di kalangan masyarakat sehingga dengan begitu mereka hanya mengikuti saja apa yang telah mereka dapatkan dari warisan nenek moyang mereka tanpa mengetahui kebenaran akan hal itu.

Beramal tidak cukup dengan hanya bermodalkan semangat yang tinggi, melainkan harus diiringi dengan ilmu yang benar, yang bersumber dari kalam illahi dan sabda Nabi al-Ummy.

Agama islam merupakan agama yang datang dari Allah, agama yang bersumber dari al-qur’an dan sunnah, bukan agama yang bertopang pada akal semata bukan pula pada adat tradisi belaka. Maka dari itu hendaklah setiap muslim untuk lebih giat mempelajari dien ini sehingga tidak mudah terjerumus pada kebid’ahan dan kesyirikan. Wallahu A’lam.


Nb : Sebuah karya ilmiyah telah selesai digarap oleh seorang thullab di Islamic Center Bekasi berupa Project Paper, yang menjawab semua hakikat dari shalawat nabi terkhusus shawalat badar yang banyak dilamalkan ummat. Silahkan bagi pembaca yang ingin mendownloadnya klik URL berikut ini : http://www.ziddu.com/download/19041390/shalawatbadar.rar.html



[1] Dr. Muhammad Utsman al-Khusyt, Kumpulan Keistimewaan Shalawat Nabi Ditinjau Dari Beberapa Segi, Bandung, Husaini Bandung, Maret 1990 M, hal : 87.
[2] Lihat Abu Anas Ali bin Husain Abu Lauz, Kupas Tuntas Tentang Tawasul, Jati Negara Jakarta Timur, Darus Sunnah Press, Cet II, 2011 M. hal : 68.
RAIH PAHALA, Sebarkan Artikel Ini !

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...