Minggu, 27 Januari 2013

PERKATAAN MEREKA TENTANG KEMA’SHUMAN NABI-NABI DAN PARA IMAM.

PERKATAAN MEREKA TENTANG KEMA’SHUMAN NABI-NABI DAN PARA IMAM.
Oleh : Nanang Imam Safi’i


قال الرافضي: (وذهب جميع من عدا الإمامية والإسماعيلية إلى أن الأنبياء والأئمة غير معصومين، فجوّزوا بعثة من يجوز عليه الكذب والسهو[1] والخطأ والسرقة، فأي وثوق يبقى للعامة في أقوالهم، وكيف يحصل الانقياد إليهم، وكيف يجب اتباعهم مع تجويز أن يكون ما يأمرون به خطأ؟ ولم يجعلوا الأئمة محصورين في عدد معين، بل كان من بايع قرشيًا انعقدت إمامته عندهم، ووجب طاعته على جميع الخلق إذا كان مستور الحال، وإن كان على غاية من الكفر والفسوق والنفاق).

Rafidhah berkata : “kaum muslimin kecuali imamiyah dan isma’illiyah berpendapat bahwa nabi-nabi dan para imam itu tidak ma’shum. Karenanya bisa jadi mereka melakukan kedustaan, kekeliruan, kesalahan dan pembajakan. Lantas kepercayaan sperti apa yang bisa di pegang ummat terhadap perkataan mereka ? Bagaimana orang bisa percaya kepada mereka? Bagaimana pula wajib mengikuti mereka sedangkan bisa jadi apa yang merekaperintahkan adalah sebuah kesalahan ? Mereka tidak membatasi para imam dengan jumlah tertentu. Akab tetapi siapa saja yang berbaiat kepada orang quraish maka pasrah keimamannya disisi mereka, wajib untuk taat kepadanya terhadap seluruh penciptaan walaupun samar-samar, walaupun juga imam tersebut kufur/fasik/pun nifaq.
Batahan :
Bantahan ini bisa dilihat dari dua sisi :
Pertama : perkataan mereka yang menyebutkan bahwasanya jumhur (para ulamak) mereka menafikan akan kema’shuman para nabi dan bisa jadi mereka melakukan kedustaan, pembajakan juga keliru dalam perintah kepada mereka.
Bantahan : perkataan ini adalah kedustaan yang dilontarkan kepada jumhur. Sedangkan hakikat sebenarnya adlah bahwa jumhur ulama bersepakat bahwa para nabi itu ma’shum dalam menyampaikan risalah. Maka tidaklah diperkenankan untuk menetapkan sebuah kesalahan dalam syari’at yang mereka bahwa , hal ini sebagaimana kesepakatan kaum muslimin.
Dan setiap apa yang mereka (para nabi) sampaikan dari Allah SWT berupa perintah dan larangan, maka wajib untuk mentaati mereka sebagaimana yang telah disepakati kaum muslimin. Setiap apa yang dikabarkan dari mereka wajib untuk membenarkannya sebagaimana ijma’ kamum muslimin, oleh karena itu apa yang mereka perintahkan serta larang maka wajib untuk seluruh golongan yang mengaku islam harus taat kepada merkeka. Berbeda dengan kaum khowarij, yang mana mereka berkata : “bahwasanya nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam itu makshum dalam apa yang beliau sampaikan dari Allah SWT, adapun kalau perintah dan larangan itu berasal dari diri nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam maka tidak demikian.” Dan mereka itu adalah golongan yang sesat sebagaimana telah disepakati Ahlusunnah wal jama’ah.
Maka dari sini, tidaklah pantas bagi orang mulsim berkata : “sesungguhnya wajib taat kepada Rasulullah SAW bersamaan kepercayaan bahwa bisa saja apa yang diperintahkan nya itu merupakan kesalahan” akan tetapi yang benar adalah kaum muslimin itu bersepakat bahwa perintah yang wajib ditaati itu pasti benar (karena ini adalah risalah tabligh yang datangnya dari Allah SWT sendiri).
Oleh karena itu, perkataan rafidhah : “maka bagaimana bisa orang itu mengikuti nabinya sedangkan bisa saja mereka memerintahkan sesuatu yang salah.” Maka Sekalipun tidak ada diantara kaum muslimin yang mengiyakan perkataan tersebut.

TENTANG PERKATAAN MEREKA BAHWA UMMAT ISLAM (KECUALI RAFIDHAH, IMAMIYAH, DAN ISMA’ILIYAH) MENGATAKAN BAHWA PARA IMAM TIDAK MA’SHUM
Adapun perkataan mereka mengenai kema’shuman para imam (merkea tidak memasukan kelompok imamiyah dan isma’illiyah), hal ini memang benar (artinya Ahlusunnah tidak sepakat tentangnya). Akan tetapi, justru perkataan mereka (bahwa para imam itu ma’shum.pent) itu disepakati oleh orang munafik, yang mana masyayikh kibar mereka itu justru lebih kafir dari orang yahudi dan nashroni juga musyrikin. Dan ini adalah kebiasaannya rofidhah. Mereka berpaling dari kaum muslimin kepada yahudi, nashroni serta orang musyrikin dalam perkataan, perwalian, pertolongan, perkataan dan selainnya.
Maka apakah ada kaum yang memusuhi para kaum terdahulu dari kalangan muhajirin dan anshor, dan malahan berwali kepada kaum kuffar dan munafik ?, sungguh Allah SWT ta’ala berfirman : (al mujadalah: 14-22)
Juga sebagaimana sabda nabi :
“أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ”
Artinya : “Ada empat perkara, barangsiapa yang empat perkara tersebut ada pada dirinya maka dia menjadi orang munafik sejati, dan apabila salah satu sifat dari empat perkara tersebut ada pada dirinya, maka pada dirinya terdapat satu sifat dari kemunafikan hingga dia meninggalkannya: jika berbicara selalu bohong, jika melakukan perjanjian melanggar, jika berjanji selalu ingkar, dan jika berselisih licik.” dikeluarkan oleh shohihain.[2]
Juga firmannya lagi :
šÆÏèä9 tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 .`ÏB û_Í_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) 4’n?tã Èb$|¡Ï9 yŠ¼ãr#yŠ Ó|¤ŠÏãur Ç`ö/$# zOtƒötB 4 y7Ï9ºsŒ $yJÎ/ (#q|Átã (#qçR%Ÿ2¨r šcr߉tF÷ètƒ ÇÐÑÈ   (#qçR$Ÿ2 Ÿw šcöqyd$uZoKtƒ `tã 9x6Y•B çnqè=yèsù 4 š[ø¤Î6s9 $tB (#qçR$Ÿ2 šcqè=yèøÿtƒ ÇÐÒÈ  
Artinya : “Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [Al-Maidah 78-79]
Kebanyakan mereka tidak melarang kemungkaran jika sebagian mereka melakukannya. Karena itulah di negri-negri mereka (dominan orang syi’ah rafidhah) banyak orang dhalim dan melakukan kekejian[3]. Mereka berwali kepada orang-orang kafir yang Allah SWT murkai. Jadi sebenarnya mereka itu tidak berpihak kepada orang kafir, bukan juga berpihak kepada orang muslim. Hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman :
* óOs9r& ts? ’n<Î) tûïÏ%©!$# (#öq©9uqs? $·Böqs% |=ÅÒxî ª!$# NÍköŽn=tã $¨B Nèd öNä3ZÏiB Ÿwur öNåk÷]ÏB tbqàÿÎ=øts†ur ’n?tã É>É‹s3ø9$# öNèdur tbqßJn=ôètƒ ÇÊÍÈ  
Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah SWT sebagai teman? orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. [Al-Mujadalah 14]
Karenanya jumhur berpendapat bahwa sebenarnya mereka itu jenis lain lain (lain dari pada yang lain). Sampai-sampai kaum muslimin membunuh mereka ketika mereka menentang ketika berada di pinggir syam. Mereka (syi’ah rafidhah) menumpahkan darah orang muslimin, mengambil harta mereka, merempok dijalan sebagai suatu hal yang halal bagi mereka. Mereka membunuh sebagian orang turki. Mereka berkata : kami ini muslimin. Tapi orang muslim berkata : bukan, kalian itu berbeda dengan muslimin, kalian telah keluar dari kaum muslimin. Karena mereka itu lain (istimewa) daripada yang lain, istimewa kekufurannya. Pent.

MENGENAI PERKATAAN MEREKA BAHWA PARA IMAM ITU MA’SHUM
Adapun mengenai perkataan mereka bahwa para imam itu ma’shum, maka tidak ada landasan satupun dari alquran dan assunnah. Kecuali argument yang mereka bawakan “bahwasanya Allah SWT tidak membiarkan dunia ini kecuali ada para imam yang ma’shum karena yang demikian itu adalah mashlahat (maksudnya : mereka berhujjah kalau gak ada imam ma’shum didunia maka pasti tidak ada mashlahat).” Padahal sudah diketahui bahwa imam mereka yang ghaib (imam mahdi) sampai sekarang belum ada, kalau mereka berhujjah akan tidak mashlahatnya dunia ini kecuali ada imam ma’shum berarti jaman sekarang ini Allah SWT belum menurunkan mashlahat ke dunia, pent.
Selain itu, adanya ketaatan kepada Rasulullah SAW itu bukan karena alasan beliau itu adalah imam yang ma’shum, akan tetapi karena beliau itu adalah imamnya orang-orang beriman yang wajib untuk ditaati. Dan sesungguhnya dakwah bahwa imam itu ma’shum itu terjadi ketika zaman ali radhiyAllah SWTu ‘anhu.
Adapun mengenai petunjuk yang didapati oleh para imam-imam yang ma’shum dikalangan mereka itu adalah suatu kebohongan. Mereka berkata bahwa para imam didatangi rijal ghoib (laki-laki yang ghaib, samar-samar) di gunung libanon seperti gunung qosiyun didamaskus, mughorotudadam, gunung al fath di mesir, dan lain sebagainya dari jenis macam gunung dan gua-gua tempat mereka didatangi rojal ghoib. Maka sesungguhnya tempat-tempat tersebut merupakan tempatnya jin (angker,pent) banyak syaitan didalamnya, tidak jarang juga mereka menyerupai manusia, mereka ghaib dari pandangan mata. Orang yang bodoh menyangka bahwa mreka itu adalah manusia, padahal hakikatnya mereka itu adalah jin. Hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman :
¼çm¯Rr&ur tb%x. ×A%y`Í‘ z`ÏiB ħRM}$# tbrèŒqãètƒ 5A%y`̍Î/ z`ÏiB Çd`Ågø:$# öNèdrߊ#t“sù $Z)ydu‘ ÇÏÈ  
Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” [Al-Jin: 6]
Pada intinya, satu-satunya imam yang ma’shum adalah Rasulullah SAW (ketika beliau diutus.pent), hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman :
$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqß™§9$# ’Í<’ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqß™§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ  
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [Annisa : 59]
Dalam ayat diatas, Allah SWT memerikan solusi ketika terjadi perselisihan diantara kaum muslimin. Dan sungguh Allah SWT memberikan solusi untuk kembali kepada Allah SWT dan Rasulullah SAWnya, dan tidak menyebutkan para imam, padahal awal ayat tersebut disebutkan kata aimmah (para imam), hal ini menunjukan tidak ada yang ma’shum kecuali Rasulullah SAW.

TENTANG PERKATAAN MEREKA : UMMAT ISLAM BERKATA “JUMLAH PARA IMAM TIDAK DIBATASI DENGAN ANGKA TERTENTU”
Hal ini tentu benar, karena Allah SWT berfirman :
$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqß™§9$# ’Í<’ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqß™§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ  
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah SAW (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasulullah SAW (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa:59]
Artinya: “wahai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah SWT, taatlah kalian kepada Rasulullah SAW, dan kepada umul amri diantara kalian”
Ayat ini tidak membatasi jumlah tertentu.
Juga sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalah shohihain yang diriwayatkan dari abi dzar, beliau bersabda :
إِنَّ خَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ
Artinya : “kekasihku mewasiatkanku untuk selalu mendengar dan taat sekalipun kepada seorang budak yang cacat.”[4]
Oleh karena itu, tentu alquran dan al haidts mengakatan bahwa adanya para pemimpin (klilafah) itu tidak dibatasi jumlahnya. Dan dari sini dapat diketahui juga bahwasanya pendapat mereka tentang imam itu terbatas hanya 12 saja, maka ini adalah jelas bertentangan dengan alquran dan assunnah.

TENTANG PERKATAAN MEREKA : “BAGAIMANA PERJANJIAN DALAM BAI’AT YANG MEWAJIBKAN UNTUK TAAT”
Rafidhah berakata : “setiap orang yang berbaiat kepada quraish, maka terikat perjanjian keimamannya dan seluruh manusia wajib untuk taat kepadanya walaupun jika ada kesamar-samaran, meskipun juga ia itu fasik, kafir, dan ada kemunafikan dalam dirinya”.
Bantahan dari perkataan ini bisa dilihat dari beberapa sisi :
Pertama :
Perkataan ini bukanlah termasuk dari perkataan Ahlusunnah. Madhab Ahlusunnah tidak mengatakan bahwa hanya dengan berbaiat secara pribadi, maka telah ada ikatan perjanjian (antara yang berbaiat dan yang dibaiati), apalagi melazimkan seluruh manusia untuk mentaatinya. Hal ini sebagaimana umar berkata :
من بايع رجلاً بغير مشورة المسلمين، فلا يبايع هو ولا الذي بايعه تغِرَّة أن يُقتلا
Aritnya : “maka barangsiapa yang membaiat seseorang dengan tanpa musyawarah kaum muslimin, janganlah diikuti, begitu juga orang yang di baiatnya, karena dikhawatirkan keduanya terbunuh.”[5] HR. Al-Bukhori.
Kedua  :
Bahwasanya tidaklah mutlak ketaatan kepada imam terhadap segala apa yang diperintahkannya, akan tetapi ketaatan kepada imam itu mencangkup lingkup syari’at atau ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu Rasulullah SAW melarang untuk tidak mentaati kepada pemimpin, jika perintahnya merupakan bentuk maksiat kepada Allah SWT sekalipun pemimpin itu imam yang adil. Jika pemimpin memerintahkan untuk shalat, zakat, shodaqoh, beriksap adil, haji dan jihad dijalan Allah SWT, maka hakikatnya pelaksanaan perintah itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Sebagaimana juga seorang yang fasik ataupun kafir, ketika mereka memerintahkan ketaatan kepada Allah SWT (cont shalat,dsb, pent) maka tidaklah kita kemudian menolak dan mengharamkan perintah itu, dan tidaklah hilang kewajibannya karena itu adalah perintah orang yang kafir. Namun demikian, ketaatan yang dilaksanakan atas perintah orang kafir itu adalah ketaatan kepada Allah SWT, bukan ketaatan kepada orang yang kafir. Dan pada intinya, Ahlusunnah tidak taat secara mutlak kepada pemimpin, akan tetapi Ahlusunnah mentaati pemimpin mencangkup ketaatan kepada Allah SWT.
Hal ini sebagaimana juga firman Allah SWT yang berbunyi :
$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqß™§9$# ’Í<’ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqß™§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ  
Artinya : “wahai manusia taatilah Allah SWT, taatilah Rasulullah SAW, dan ulul amri diantara kalian.” [an-nisa:59]
Dalam ayat ini, Allah SWT memerintahkan untuk taat kepada Allah SWT secara mutlak, kemudian memerintahkan untuk taat kepada Rasulullah SAW karena beliau tidak memerintahkan kecuali sebuah ketaatan kepada Allah SWT. Juga Allah SWT memasukan ketaan kepada ulul amri didalamnya, akan tetapi tidak ada kata “taatilah”. Hal ini menunjukan bahwa taat kepada ulul amri itu tidak mutlak, akan tetapi ketaatan kepadanya itu adalah ketaatan untuk yang ma’ruf (perihal baik)
Juga sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
انما الطاعة في المعروف
Artinya : ” sesungguhnya ketaatan itu dalam hal kebaikan”[6]
Juga sabdanya lagi :
لا طاعة في معصية الخالق
Artinya : “Tidak ada ketaan dalam hal kemaksiatan kelada Allah SWT.”
Juga sabdanya lagi :
لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق
Artinya : “tidak ada ketaatan dalam hal kemaksiatan kepada Allah SWT”[7]
Juga sabdanya  lagi :
من أمركم بمعصية الله فلا تطيعوه
Artinya : “siapa saja yang memerintahkan kepada kalian untuk bermaksiat kepada Allah SWT, maka janganlah kalian mentaatinya.”
PASAL : PERKATAAN MEREKA TENTANG QIYAS DAN MADZHAB FIQIH

Rafidhah berkata : “Diantara ummat muslim berpendapat dengan perkataan qiyas, mengambil ro’yun (pandangan dengan akal), dan mereka memasukan perkataan/pendapat tersebut kedalam bagian dari agama Allah SWT apa yang sebenarnya tidak termasuk didalamnya. Mereka juga mengubah syari’at, mengambil pendapat madzhab yang empat yang mana belum ada pada zaman nabi saw, juga pada zaman sahabat. Dan mereka menelantarkan perkataan para sahabat, padahal para sahabat berdalil (bernash) tanpa qiyas, merekapun berkata : “yang pertama kali melakukan qiyas itu adalah iblis”
Bantahan dari pernyataan diatas ada beberapa sisi :
Pertama :
Klaim mereka bahwa seluruh Ahlusunnah yang menetapkan akan kekhilafahan khulafaurasyidin yang tiga, (abu bakar, umar, dan utsman,) berkata dengan qiyas itu adalah perkataan bathil. Sudah diketahui bahwa sebagian kelompok darinya itu ada yang berkata (tidak menjadikan qiyas hujjah) dengan qiyas. Seprti contoh mu’tazilah al baghdadiy, dhorhiruiyyah seperti dawud, ibn hazm dan selain mereka berdua, dan kelompok dari ahlul hadits ashufiyah.
Lagi : padahal diantara sekte syi’ah ada juga yang berhujjah dengan menggunakan qiyyas seprti zaidiyyah. Karenannya dalam syi’ah juga da perselisihan seperti halnya Ahlusunnah.
Kedua :
Walapun dikatan qiyas itu lemah (hujjiahnya.pent), akan tetapi ia lebih baik dari pada taqlid (sebatas mengikuti) bagi siapa saja yang belum sampai pada derajat mujtahid. Maka sesungguhnya (yang demikian itu) diketahui oleh orang yang ‘alim atau punya sebagian ilmu. Seperti : malik, allaits, sa’ad, al auza’i. Abi hanifah, atsauriy, ibnu abi laila, juga syafi’i, ahmad, ishaq, abi ‘ubaid, abi tsaur yang mana mereka itu orang yang alim dan faqih, pun tekadang menggunakan pendapat dengan qiyas.
Lagi : bahwa para ulama Ahlusunnah, ketika menemui permasalahan dan kemudian ada nash dalam hadits nabi, maka mereka mendahulukan hadits nabi ketimbang qiyas. Dan ini sudah maklum, adapun jika dalam kondisi seperti itu ada yang mengedepankan qiyash, maka ia itu jahil. Dan qiyas yang membuat dzon (prasangka) lebih baik dari pada kebodohan yangh sama sekali tidak ada ilmu juga tidak ada sangkaan.
Jika mereka berkata : “para ulama ummat muslim (Ahlusunnah terkhususnya) mereka berselisih)
Maka dapat dibantah : “mereka juga berselisih”

Rafidhah berkata : “ummat muslim memasukan dalam agama mereka apa yang seharusnya tidak ada. Mereka mengubah hukum-hukum syari’at”
Bantahan : justru yang banyak melakukan hal-hal tersebut adalah kelompok rafidhah itu sendiri. Merekalah yang memasukan apa yang harusnya tidak ada dalam agama islam, mulai dari dusta terhadap nabi  muhammad, yang mana tidak ada seorangpun yang melakukannya, mereka menolak shadaqoh, dan mereka juga merubah alquran.
Seperti tafsiran yang mereka buat sendiri :
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُون [المائدة:55]
Mereka berkata ayat ini turun kepada ali
مرَجَ الْبَحْرَيْنِ[الرحمن:19]
Mereka berkata ayat ini turun untuk fathimah
يخرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَان[الرحمن:22]
Mereka berkata : ayat ini turun kepda hasan dan husain
وَكُلُّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينيس ]يس: [12
Mereka berkata ayat ini turun kepada ali bun abi thalib
Belum lagi ditambah mereka mengubah alquran secara harfiyahnya, dengan menambah atau mengurangi ayat semau mereka sendiri.
Yang kesemua itu bisa didapati dalam kitab-kitab mereka. Seperti contoh kitab fashlul khitob fie itsbati tahrifi kitabi robbil arbab. Diantara mereka itu adalah sekte isma'illiyah dan nushairiyyah dalam pentakwilan perihal wajib dan haram. Dan mereka itu adalah dedengkot takwil. Jadi, hakikatnya mereka itulah yang mengubah kitab suci yang belum seorangpun mengubahnya.

Tentang perkataan mereka : mengambil pendapat madzhab yang empat yang mana belum ada pada zaman nabi saw, juga pada zaman sahabat. Dan mereka menelantarkan perkataan para sahabat
Bantahan : sebenarnya kapan adanya permbangkangan terhadap sahabat, dan mengingkari perkataan mereka oleh imamiyah ? Justru mereka sendiri yang menelantarkan perkataan para sahabat dan mengedepankan perkataan imam-imam mereka. Adapun imam empat madzhab, mereka itu tidaklah meninggalkan perkataan sahabat, justru mereka itu bersepakat untuk mencintai sahabat berwali kepada mereka dan mengutamakan mereka dari qurun (masa). Lantas bagaimana bisa rafidhah mencela imam empat madzhab dengan mengatakan mereka menyelisihi sahabat. Karenanya mereka juga menyelisihi perkataan orang yang mengatakan : "sesungguhnya ijma' shahabat itu tidka bisa dijadikan hujjah, bagi yang berhujjah dengannya maka ia sama halnya telah kufur dan dzalim", ini adalah tuduhan yang dilemparkan kepada imam empat madzhab.
Adapun mengenai hujjahnya sahabat, maka ini masuk dalam bab fiqih, dimana imam empat madzhab memang berbeda, ada yang mengambilnya sebagai argument, ada yang tidak. Namun ketidak mengambilan mereka untuk hujjah bukan berarti mereka itu benci kepada sahabat.
Jika mereka mengatakan : "Ahlusunnah itu mengambil mereka (imam empat madzhab) sebagai hujjah, dan menyelisihi sahabat"
Bantahan : ini tuduhan yang tidak realistis.pent. Ahlusunnah bersepakat untuk tidak menyelisihi ijma' para sahabat. Justru merekalah, terkhusus sekte imamiyah yang benar-benar sudah dipastikan bahwa mereka itu sepakat untuk menyelisihi ijma'nya keturunan nabi, juga sepakat untuk menyelisihi ijma' sahabat.

Perkataan mereka : "mereka (Ahlusunnah) berkata (mengambil pendapat) imam empat madzhab, yang mana mereka belum ada pada zaman nabi saw"
Bantahan : Jika dengan dalil atau perkataan ini mereka memaksudkan bahwa Ahlusunnah itu menyelisihi sahabat, maka ini bentuk kedustaan, (ini sudah dijelaskan diatas). Imam empat madzhab juga tidak hidup sezaman, abu hanifah misalnya beliau wafat pada tahun 150, imam malik tahun 176, syafi'i tahun 204, ahmad bin hambal tahun 241. Dan tidaklah mereka itu taqlid satu sama lain. Dan tidak ada satupun yang memerintahkan untuk mengikuti mereka, akan tetapi ajakan dakwah mereka itu adalah untuk mengikuti al quran dan assunnah. Adapun jika terdapat perkataan yang menyelisihi alquran dan assunnah, maka tidak diwajibkan kepada manusia untuk mengikutinya.
Jika dikatakan : "manusia itu mengikuti imam empat madzhab ini".
Jawaban : mengikutnya manusia kepada imam empat madzhab bukanlah merupakan kesepakatan secara muwafakat, namun sebagian kaum mengikuti imam yang satu, dan sebagian yang lain mengikuti imam yang lainnya. Hal ini sebagaimana para jema’ah haji yang mana mereka meminta seseorang untuk menunjukan jalan, kemudian suatu kaum melihat dan mengabarkan bahwa inilah jalanannya, maka kemudian al hajjaj mengikutinya. Juga sebagaimana yang lain.
Juga setiap kaum itu mengingkari jika ada pendapat yang keliru. Dan tidaklah mereka itu bersepakat bahwa manusia itu harus menerima apa yang dikatakan oleh imam empat madzhab, karena memang jumhur tidak memerintahkan kepada ummat untuk taqlid kepada orang perorangan kecuali hanya kepada Rasulullah SAW saja.
Selain itu, Allah SWT ta'ala telah menjamin kesucian ummat islam. Adapun diantara jaminan itu adalah adanya sejumlah ulama. Jika satu diantara mereka salah, maka yang lainnya bisa membenarkan, hingga Al Haq (kebenaran) tidak lenyap. Karena itulah terkadang sebagian diantara pendapat imam (imam empat madzhab terkhususnya) itu salah dalam beberapa masalah. Akan tetapi yang lainnya benar.
Adapaun mengenai kesalahan ulama (dalam berijtihad, atau berpandangan) itu tidak bahaya, sepertihalnya kesalahan yang ada pada sebagian kaum muslimin. Justru syi'ah itulah yang menyelisihi Ahlusunnah semuanya, mereka semuanya keliru sebagaimana kekeliruan yang dilakukan oleh orang-orang yahudi dan nashroni dalam perselisihan mereka kepada kaum muslimin.

Perkataan mereka : imam empat madzhab ini belum ada ketika zaman nabi, tidak ada pula ketika zaman sahabat.
Bantahan : Jika dengan perkataan ini mereka memaksudkan bahwa imam empat madzhab itu tidak satupun menukil perkataan dari nabi dan para sahabat, bahkan meninggalkan keduanya sampai-sampai menyelisihi perkataan nabi dan sahabat, maka ini adalah kedustaan yang kesekian kalinya.
Sesungguhnya mereka itu sama sekali tidak menyelisihi sahat, bahkan merka itu adalah para pengikut perkataan sahabat. Adapun jika terjadi pada Ahlusunnah perkataan yang menyelisihi sahabat, maka dapat dipastikan akan ketidak tahuannya tentang ilmu.

Mereka berkata : "imam empat madzhab itu menelantarkan perkataan para sahabat".
Bantahan : Ini adalah kedustaan. Hakikatnya, kitab-kitab karangan mereka itu penuh dengan nukilan perkataan-perkataan para sahabat dan mereka berargumen dengannya pula.
Pada umumnya pula, apa yang mereka katakan itu dinukil dari sebelum mereka (para sahabat)
Nb : ulama adalah pewaris para nabi, yang menjaga keutuhan syi'ar islam. Kalaulah bukan karena ulama, niscahya manusia itu bagaikana hewan ternak.[8]

Perkataan mereka  : “para sahabat tidak berdalil dengan menggunakan qiyas”
Bantahan : jumhur ulama yang menetapkan adanya qiyas berkata : telah ditetapkan kepada para sahabat, bahwa mereka itu berkata dengan menggunakan pandangan mereka, ijtihad juga qiyas. Mereka berkata : “setiap dari dua perkataan (padangan berbeda) itu benar, adapun qiyas yang tercela itu adalah yang bertentangan dengan nash.”

Diterjemahkan dan disarikan dari kitab mukhtashor minhajusunnah karya syaikh Abdullah Al-Ghunaiman, darushodiq, shon’a, tahun 1433 H/2012 M, hal 148-170

<<<<Wallohu A’lam Bishowab>>>>


[1] Dikatakan bahwa al imam lirridho (dia adalah imam ke 8 bagi syi’ah) berkata: “sesungguhnya di kuffah ada kaum yang beranggapan bahwa nabi saw itu tidak pernah lalai dalam shalatnya, kemudian ia berkata; semoga mereka dilakanat Allah. Sesungguhnya yang tidak pernah lalai itu adalah yang tidak ada illah selain dia”
[2] Hadits ini diriwayatkan dari ‘abdillah bin ‘amru bin ‘ash. Dikeluarkan oleh bukhori (1:12) dalam kitab al iman, bab ‘alamatunnifaq
[3] Hal ini karena syi’ah berkeyakinan bahwa Allah berfirman : “aku mencintai apa yang dicintai keluarga Muhammad walaupun ia itu seorang yang fasik lagi pezina, dan aku memeci apa yang dibenci keluarga muhammad meskipun ia itu gemar berpuasa lagi adil (ataupun pemimpinnya). Lihat amaliy asyaikh athusi hal 418, 461.
[4] Hadits ini ada ikhtilaf dari segi lafadznya, diriwayatkan dari abi dzar, dalam kitab muslim (1:448) kitab al masajid wa mawadhi’sholat, bab karohatu ta’khiri sholat …) …
[5] Lihat athowaif fiel ma’rifati madzahibi athowaifi milik ibnu thowus hal 237
[6] Penjelasan ini adalah yang diterangkan oleh ali bin abi thalib, yang dikeluarkan oleh syaikhon. Bukhori (5:161) kitab al maghozi bab ba’atsa annabiy kholid bin walid ilaa bani khuzaimah.
[7] Hadits ini terdapat dalam silsilah al ahadits ashohihah milik syaikh al albani (1/111-112) nomor 180
[8] لو لا العلماء لكان الناس كالبهائم
RAIH PAHALA, Sebarkan Artikel Ini !

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...